Senin, 26 November 2018

PERBEDAAN MENJADI ASET BERHARGA UNTUK PERSATUAN DAN KESATUAN INDONESIA


PERBEDAAN MENJADI ASET BERHARGA UNTUK PERSATUAN DAN KESATUAN INDONESIA
Oleh : Lina Nur Afifah


            Persatuan dan kesatuan merupakan senjata yang paling ampuh bagi bangsa Indonesia baik dalam rangka merebut, mempertahankan, maupun mengisi kemerdekaan. Persatuan mengandung arti “bersatunya macam-macam corak yang beraneka ragam menjadi satu kebulatan yang utuh dan serasi.” Persatuan Indonesia berarti persatuan bangsa yang mendiami wilayah Indonesia.  Persatuan dan kesatuan ini terbentuk bukan hanya sekedar susunan huruf yang membentuk kata,namun dibalik sebuah kata tersebut terselip begitu besar pengorbanan yang dilakukan kakek atau nenek kita pada masa penjajahan dahulu. Yang rela mempertaruhkan harta,benda,bahkan nyawanya untuk memepertahankan persatukan nusantara yang notabenya merupakan wilayah kepulauan yang terpisah pisah dan tentunya memilki banyak sekali perbedaan dalam kehidupan bermasyarakat. Namun perbedaan tersebut bukanlah suatu masalah besar bagi para pejuang kemerdekaan pada zaman dahulu,terbukti kita saat ini telah merdeka diatas berbagai perbedaan yang ada. Dan kita ketahui presiden Soekarno yang merupakan seorang berdarah Jawa dan wakilnya yang akrab dipanggil Bung Hatta yang merupakan orang berdarah Minang,beliau berdua telah sukses mengantarkan Indonesia pada puncak persatuan yaitu kemerdekaan. Tapi,di zaman milenial ini kita sebagai generasi muda yang katanya calon – calon pemimpin bangsa terlalu sibuk memikirkan barang – barang branded,memilih teman yang cantik,yang penampilanya tidak katrok,yang kulitnya mulus seperti susu. Dan kita terlalu kuker (kurang kerjaan) mengomentari agama yang dianut tetangga kita,terlalu gabut mengurusi cara ibadah saudara seiman kita,terlalu mudah menilai apa yang dilakukan seseorang itu salah dan yang kita lakukan itu benar.Apakah dengan begitu perstuan dan kesatuan yang kita inginkan,yang telah diperjuangkan oleh para pahlawan kita akan tetap terwujud? Dan akankan perbedaan – perbedaan tersebut menjadi sebuah bumbu yang sedap untuk menghidangkan perstuan dan kesatuan sebagai hadiah untuk anak cucu kita kelak?
            Indonesia terbentang dari Sabang sampai Merauke,terdiri dari ribuan gugusan pulau yang indah,yang didiami berbagai macam suku bangsa yang jumlahnya mencapai ribuan. Tentu hal ini menimbulkan banyak perbedaan,entah dari bahasa yang digunakan sehari – hari,dari pakaia adat,rumah adat,bahkan cara mengolah makanan pun berbeda. Namun bukankan perbedaan itu indah? perbedaan membuat kita beragam dan kaya. Seharusnya perbedaan ini kita jadikan sebagai kekuatan pemersatu bangsa. Namun kenyataanya,di usia Indonesia yang sudah cukup tua ini yang hampir satu abad,masalah perbedaan masih menjadi suatu yang krusial.
“Bangsa kita saat ini menghadapi ancaman persatuan nasional. Setiap hari masyarakat disodori isu dan ujaran-ujaran yang berusaha memecah belah bangsa. Kyai-kyai disudutkan agar umat tergerus rasa hormatnya pada ulama. Tradisi lokal disesatkan agar masyarakat kehilangan identitas,” ungkap Ketum GP Ansor Yaqut Cholil Qoumas dalam keterangan tertulis, Kamis (17/8/2017).
Menurut saya,apa yang diungkapkan oleh pak Yaqut Cholil benar adanya sesuai dengan fakta dan realita yang ada di sekitar lingkungan kita. Terkadang kita terlalu sentimen menaggapi pendapat orang yang tidak sesuai dengan kehendak kita,dengan begitu sangat mudah timbul perpecahan di negara kita tercinta ini, Indonesia. Bukankah indonesia menganut sistem demokrasi? Seharusnya semua masalah dan perbedaan yang ada dapat diselesaikan dengan baik – baik melalui musyawarah. Tidakkah kita ingat isi sumpah pemuda yang menyatakan bahwa kita terikat atas darah dan bahasa yang sama yaitu Indonesia. Bahakan di dalam UUD 1945 ditegaskan dalam pasal 1 ayat 1 bahwa negara Indonesia merupakan negara kesatuan yang berbentuk republik.
            Dan hal inilah yang coba diterapkan di salah satu kabupaten di jawa Timur,di sebuah kota kecil yang terkenal akan penghasil minyak bumi yang melimpah yaitu Bojonegoro.  Sebelum tahun 2008 kabupaten ini terkenal akan kesemrawutan pemerintahanya, banyak korupsi dilakukan oleh penjabatnya,puncaknya pada masa kepimpinan H.M. Santoso yang ditangkap karena melakukan korupsi dana APBD hingga milyaran  rupiah. Namun,setelah itu Bojonegoro bangkit dari keterpurukan birokrasi pemerintahannya. Dalam periode selanjutnya Bojonegoro dipimpin oleh Drs. H. Suyoto, M.Si. (Kang Yoto) yang merupakan anak dari seorang petani desa,beliau mampu mengubah sistem pemerintahan di Bojonegoro menjadi lebih demokrasi,beliau menerapkan trobosan – trobosan baru untuk mengambil hati rakyatnya. Salah satu trobosanya yaitu melakukan dialog interaktif (dialog jumat) antara penjabat pemerintah dengan para masayarakat bojonegoro di Pendopo Malowopati Bojonegoro,yang dilakukan setiap jumat setelah sholat jumat. Dalam dialog interaktif tersebut, mengahadirkan beberapa penjabat pemerintahan di bojonegoro yang terkait langsung dengan permasalahan yang sekarang sedang dihadapi oleh masayarakat Bojonegoro. Dengan begitu masyarakat yang memilki permasalahan bisa menyampaikan aspirasinya dan mendapatkan penjelasan langsung dari para ahlinya. Tujuan dialog interaktif ini untuk menciptakan keterbukaan pada pemerintahan di Bojonegoro yang telah gagal dilakukan pada periode sebelum Kang Yoto menjabat,selain itu untuk mewadahi masyarakat dalam menyampaikan aspirasinya.
 "Prinsip kami keterbukaan itu adalah kunci kepercayaan masyarakat, dengan kepercayaan tentu membuat kami bersinergi dengan masyarakat," kata Suyoto dalam jumpa pers di Pisa Kafe, Jakarta, Kamis (14/4).
itulah yang menjadikan Kabupaten Bojonegoro terpilih mewakili Indonesia sebagai daerah percontohan Pemerintah Daerah Terbuka atau Open Goverment Partnership. Kabupaten Bojonegoro juga menjadi satu dari tiga perwakilan Asia dalam ajang tersebut selain Kota Seoul, Korea Selatan, dan Kota Tbilisi, Georgia. Ini juga tak terlepas dari masyarakatnya yang hidup guyup rukun,gotong – royong,adil dan makmur. Tanpa adanya sinergi dari masyarakat tentu demokrasi tersebut tidak akan tercapai,sehingga persatuan dan kesatuan pun akan hanya jadi angan semata. Untuk itu diperlukanya kesadaran dari masayarakat untuk saling menghargai,menyayangi,dan menganggap perbedaan sebagai pemanis dalam suatu hubungan kekerabatan,dan kita harus menyadari bahwa kita itu satu,Indonesia. Untuk menjadi bangsa yang besar,sangat diperlukan sikap menghargai dan cinta pada tanah air Indonesia. Dengan begitu perbedaan – perbedaan yang ada,entah perbedaan agama,suku,ras,bahasa,adat istiadat,gaya hidup,dll,bukan lagi menjadi salah satu pemicu keretakkan bangsa justru hal tersebut merupakan aspek yang sangat penting untuk mewujudkan persatuan dan kesatuan Bangsa Indonesia.
            Mari kita sebagai generasi milenial,calon calon pemimpin bangsa menjaga kekayaan tradisi dan identitas bangsa. Karena Indonesia dengan keberagamanya ini sangatlah indah,tidak ada negara manapun yang sanggup menandinginya. Kita harus bangga dengan perbedaan ini dan melangkah lebih maju untuk menyongsong Indonesia emas di tahun 2045. Dan Indonesia bukanlah milikku ataupun milik kamu,namun milik kita bersama.
           


DAFTAR PUSTAKA
Mursid, f. (2016). Dialog Jumat Embuskan Keterbukaan di Bojonegoro | Republika Online. [online] Republika Online. Available at: https://www.republika.co.id/berita/koran/halaman-1/16/04/15/o5nvc812-dialog-jumat-embuskan-keterbukaan-di-bojonegoro [Accessed 23 Nov. 2018].
Sulaiman, A. (2017). Selain Keadilan, Indonesia Darurat Persatuan. [online] NUSANTARANEWS. Available at: https://nusantaranews.co/selain-keadilan-indonesia-darurat-persatuan/ [Accessed 25 Nov. 2018].
 Admin(2015). Kang Yoto Bawa Demokrasi Bojonegoro ke Forum Dunia. [online] Available at: http://www.bojonegorokab.go.id/berita/baca/557/Kang-Yoto-Bawa-Demokrasi-Bojonegoro-ke-Forum-Dunia [Accessed 25 Nov. 2018].

Share:

0 komentar:

Posting Komentar

BTemplates.com

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages - Menu